Thursday, June 7, 2018

,

One of Us Is Lying (Satu Pembohong) - Karen M. McManus


Judul: One of Us Is Lying (Satu Pembohong)
Penulis: Karen M. McManus
Penerjemah: Angelic Zaizai
Penyunting: Mery Riansyah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama





Blurb:
Senin sore, lima murid memasuki ruang detensi.

Bronwyn, si genius, nilai akademis sempurna dan tidak pernah melanggar peraturan.
Addy, si cewek populer, gambaran sempurna pemenang kontes kecantikan.
Nate, si bandel, dalam masa percobaan karena transaksi narkoba.
Cooper, si atlet, pelempar bola andalan tim bisbol dan pangeran di hati semua orang.
Dan Simon, si orang buangan, pencipta applikasi gosip terdepan mengenai kehidupan Bayview High.

Namun sebelum detensi berakhir, Simon tewas. Menurut para penyidik, kematiannya disengaja. Apalagi kemudian ditemukan draft artikel gosip terbaru untuk ditayangkan pada Selasa, sehari setelah kematian Simon. Gosip heboh tentang empat orang yang berada dalam ruangan detensi bersamanya.

Mereka berempat dicurigai, dan semuanya punya rahasia terpendam. Salah satu di antara mereka pasti ada yang berbohong.

One of Us Is Lying dimulai dengan sudut pandang Bronwyn Rojas, si cewek rajin nan ambisus di Bayview High (sekolahnya) yang didetensi karena ketahuan bawa ponsel ke kelasnya Mr. Avery (walaupun menurut dia, itu bukan ponsel dia).

Kemudian, di ruang detensi, dia ketemu Simon Kelleher, si cowok yang ditakuti semua orang di Bayview High karena entah gimana, dia bisa tahu rahasia orang-orang dan kemudian nyebarin itu di aplikasi ciptaannya yang bernama About That. Dia sih, enggak pernah nyebut nama langsung, paling cuma inisial, tapi yaa, semua orang di Bayview High langsung tahu siapa yang lagi dia gosipin. Dan parahnya, gosip itu selalu benar.



Enggak jarang, Simon bikin orang lain menderita gara-gara gosipnya. Bahkan sampai ada anak yang mau bunuh diri gara-gara digosipin di About That dan jadi ceng-cengan gitu di sekolahnya.

Parah deh pokoknya. Makanya banyak yang takut dan kesal sama Simon.

Kemudian, di ruang detensi itu juga ada Addy. Cewek putri homecoming yang di mata hampir semua orang cuma cewek otak udang yang memedulikan penampilan, masuk geng populer, pacaran sama cowok ganteng dan keren di sekolah, dan yang semacam itu, deh.

Selain itu, juga ada Cooper Clay. Atlet bisbol dengan masa depan cerah. Termasuk dalam geng populernya Addy (Cooper ini sahabatnya Jake, pacar Addy). 

Terakhir, ada Nate. Si cowok berandal yang lagi dalam masa percobaan karena ketahuan melakukan transaksi narkoba. Hint: dia digambarkan ganteng.



Nah, pas mereka lagi didetensi, ada kejadian dan Simon Kelleher mati. Tentu aja Bronwyn, Addy, Cooper, dan Nate jadi tersangka, karena cuma mereka yang ada di sana ketika Simon mati.

Apalagi, setelah kematian Simon, banyak bukti-bukti muncul yang memberatkan mereka berempat. Ada entri buat About That tentang mereka berempat (masing-masing satu) yang belum sempat di-post Simon. Itu menimbulkan motif buat mereka bunuh Simon.

Jadi... siapa yang bikin Simon mati?

Pasti ada.

Pasti ada salah satu dari mereka yang berbohong.




Saya enggak nyangka bakal ngabisin buku ini dengan cepat karena lumayan panjang ceritanya, tapi... cerita ini page-turner banget. Karena misteri, jadi waktu baca, saya enggak sadar balik-balik halamannya dan tahu-tahu udah selesai aja.
Dan ketika selesai saya cuma bisa berkata...



Oke, sebelum ngomongin soal ending-nya, saya mau ke awal dulu dan bahas ceritanya.

Cerita ini dibawakan dengan sudut pandang orang pertama yang pindah-pindah--Bronwyn, Addy, Cooper, dan Nate. Tapi karakter semuanya kuat dan walaupun semuanya pakai 'aku', saya bisa bedain dan tahu lagi baca sudut pandang siapa tanpa harus balik-balik halaman dan lihat siapa yang lagi ngomong.

Jadi.. saya akan bahas karakter-karakternya dulu.

Pertama, Bronwyn Rojas. Dia benar-benar ngingetin saya sama Spencer Hastings di serial TV Pretty Little Liars.


Spencer Hastings dari Pretty Little Liars

Karakter dan latar belakangnya Bronwyn dan Spencer itu benar-benar mirip. Mulai dari rajinnya, ambisnya, keluarganya (ayah-ibu sukses dan strict, kuliah di satu tempat, dan Bronwyn-Spencer ngejar kuliah di situ juga karena itu udah kayak almamater keluarga), masalah pacarannya (plis Spencer kan juga pacaran sama Toby pas si Toby masih *tuut* [enggak mau spoiler]), terus vigilante-nya juga mirip banget enggak bohong.

Beneran deh, emang karena pinter gitu, jadi si Bronwyn itu berusaha menyelidiki kasus ini walaupun sebenarnya enggak boleh karena dia kan juga tersangka. Tapi dia tetap aja ngelakuin. Ini benar-benar Spencer Hastings parah. Masalah vigilante ini yang terasa banget mirip antara Bronwyn dan Spencer.

Terus rahasianya itu lho... kesalahan yang Bronwyn lakuin dan yang dia takutin bakal muncul di About That itu kesalahan yang berhubungan dengan akademis dan lagi-lagi.. Spencer Hastings parah! (Di season 1 Spencer pernah nyalin esai kakaknya diem-diem dan ini adalah rahasia yang pertama kali diancem A ke Spencer.)

Daan, banyak lagi, deh. Kalau kalian nonton Pretty Little Liars (PLL), dan baca buku ini, kalian bakal nyadar semirip apa Bronwyn sama Spencer.

Yaa, saya enggak tahu ya, ini sengaja atau enggak. Mungkin penulisnya memang terinspirasi dari PLL (Penulis emang nyebut-nyebut Netflix mulu di sini, dan PLL tayang di Netflix juga, jadi bukannya enggak mungkin kan, Penulis nonton PLL? He), mungkin juga enggak. Tapi yaa, saya sebetulnya enggak mempermasalahkan itu, sih. Karena kebetulan, Spencer Hastings itu karakter favorit saya di PLL (hehe), tapi yaa, ketika baca ini, saya jadi kebayang-bayang Spencer aja.

Cuma, tetap enggak memengaruhi ceritanya, kok. Saya tetap suka karakter Bronwyn, hehe.


"Jadi, kau tidak sempurna. Memangnya kenapa? Selamat datang di dunia nyata." 


Oke, kemudian, lanjut ke Addy. Dia yaa, seperti yang udah saya ceritain di atas, model cewek yang perfect gitu. Yaa, seenggaknya kelihatannya begitu. Aslinya? Tentu aja enggak.

Saya suka banget character development si Addy di cerita ini. Gimana dia akhirnya lepas dari kontrol dan bebas atas kemauannya sendiri. Perkembangannya terasa dan masuk akal.



Kemudian, ada Cooper. Jujur, saya enggak nyangka kalau rahasinya si Cooper adalah itu. Saya cukup bersimpatik sama apa yang dialami Cooper. Tapi saya suka gimana si atlet satu ini kayak selalu tenang gitu. Maksud saya, dia bukan jenis cowok penggila kontrol dan abusive (enggak kayak karakter *tuut*). 

"Tentu, tentu. Tidak perlu buru-buru, tidak ada tekanan. Semua terserah kau, Cooper."

Semua orang selalu mengatakan itu, tapi rasanya tidak benar. Dalam hal apa pun.

Walaupun keadaannya tertekan, dia kayak menerima semua itu dengan pikiran kurang lebih yang kayak



Bukannya pasrah. Cuma dia sadar kalau enggak ada yang bisa dia lakuin saat itu untuk memperbaiki keadaan dan bagusnya, dia enggak memperburuk keadaan juga dengan bertingkah macam-macam.

"Keadaan harus memburuk dulu sebelum membaik," ujar Nonny tenang. "Selalu begitu."

Kemudian, terakhir ada Nate!

Aaaah, karakter cowok favorit saya di buku ini, hehe. Saya suka banget interaksi Nate-Bronwyn. Mereka udah kenal dari SD cuma putus kontak dari kelas lima sampai SMA, dan pas SD juga enggak dekat, tapi pas ngalamin keadaan tertekan kayak gini bareng-bareng, mereka jadi deket (secara enggak berlebihan. Maksudnya normal dan alami gitu). Dan yaa, intinya, lucu, deh. Wkwk.

Dan walaupun masa lalunya kelam, sejak kena masalah ini, dia jadi lebih baik. Dia udah enggak ngedarin narkoba lagi, terus mulai bergaul beneran, dll.

Kalau kata Bronwyn sih gini:

"Yah." Aku membisu sejenak, mempertimbangkan apa aku melakukan kesalahan besar. Mungkin, tapi aku tetap saja merangsek. "Aku ingin mencoba. Kalau kau mau. Bukan karena kita sama-sama terlibat dalam situasi ganjil ini dan menurutku kau seksi, meskipun itu benar. Tapi karena kau pintar, dan lucu, dan bertindak benar lebih sering daripada yang mau kauakui."

Kalau masalah alurnya, saya suka. Cukup cepat tapi enggak kecepatan. Pokoknya, seperti yang saya bilang di awal tadi, page-turner banget. 

Dan ternyata, begitu tahu siapa yang bikin Simon mati...

Jeng-jeng-jeng!

Intinya sih, ketika baca kayak gini, kalau mau nebak kita harus mikir out of the box dan pakai prinsip first principle gitu, hehe. Saya sih enggak nebak, tapi enggak kaget juga pas tahu itu dalangnya dan itu alasannya.

Cuma pas pertama kali dihubungkan titik-titiknya itu saya suka banget! Kayak... 



Hal terakhir yang pengin saya omongin soal buku ini adalah, betapa cerita ini mengingatkan saya akan Pretty Little Liars. Selain kemiripan Bronwyn dan Spencer, cerita remaja dicampur misteri ini kan, gayanya PLL banget. Apalagi bawa-bawa orang mati dan melibatkan polisi, pengacara, hukum, dll, dll, dan gimanaa, remaja-remaja itu jugalah yang akhirnya memecahkan misteri.

(Bedanya, PLL kepanjaaangaan, saya baru sampai season 6 dan enggak yakin bakal nyelesaiin sampai season 7 wkwk).

Kalau untuk terjemahannya, bahasa yang digunakan enak, kok. Walaupun masih ada saltik dan salah nama, tapi masih bisa dimaklumi dan dimengerti.

Oke, terakhir saya kasih 4.5 dari 5 bintang buat peliharaannya Nate yang namanya terinspirasi dari Stan Lee. Hahaha.

(Stan Lee literally everywhere ya hahaha.)



2 comments: