Friday, February 4, 2022

,

Best Books I Read in 2021



Haai saya kembali lagi ke blog ini (akhirnya)! :D Walaupun agak telat, saya mau membuat list dan sedikit membahas tentang buku-buku favorit saya di tahun 2021 kemarin. Beberapa buku di list ini udah pernah saya bahas di-post sebelumnya karena saya baca di awal-awal tahun dan masuk ke post Mid Year Book Freak Out Tag (baca di sini) jadi maaf kalau ngulang-ngulang (beberapa bagian mungkin saya copas aja dari post itu HAHAHA, maaf ya). Okee mari bahas buku-bukunyaa!

 

p.s list ini diurutkan dari waktu saya bacanya & ini list buku yang bakal saya bahas jadi bisa langsung skip ke buku yang kalian mau tau aja hihi.


1. Maybe You Should Talk to Someone – Lori Gottlieb 

2. Know My Name – Chanel Miller

3. The Vanishing Half – Brit Bennett

4. Anxious People – Fredrik Backman (MY ABSOLUTE FAVV OF THE YEAR!!)

5. The Midnight Library – Matt Haig

 

HONORABLE MENTIONS

1. Before The Coffee Gets Cold (1 & 2) – Toshikazu Kawaguchi

2. They Never Learn – Layne Fargo

3. In the Dream House – Carmen Maria Machado

4. Kim Jiyoung, Born 1982 – Cho Nam-Joo, Jamie Chang (Translator)

 

Maybe You Should Talk to Someone – Lori Gottlieb



Buku ini adalah memoar yang ditulis oleh terapis yang di awal buku baru putus hubungan dengan cukup buruk sampai akhirnya dia sendiri ke terapis dan mulai berusaha buat deal sama keadaannya sekarang. Selain itu, buku ini juga nyeritain soal pengalamannya dengan pasien-pasiennya. Ada tiga pasien yang dia ceritain detail walaupun nama-nama dan detailnya tentu aja disamarkan jadi pembaca nggak tahu mereka aslinya siapa.

Nah, cerita pasien-pasiennya ini yang bagus bangeeet dan sukses bikin saya nangis berkali-kali! Mulai dari ada pasien yang lagi sakit kronis dan udah hampir meninggal padahal masih muda, ada pasien yang lagi menghadapi masalah di pernikahannya, dan ada pasien yang sudah tua dan pengin membangun lagi hubungan sama anak-anaknya yang sekarang nggak mau berhubungan lagi sama dia karena ada masalah dulu.

Kutipan:

“There’s no hierarchy of pain. Suffering shouldn’t be ranked, because pain is not a contest. Spouses often forget this, upping the ante on their suffering—I had the kids all day. My job is more demanding than yours. I’m lonelier than you are. Whose pain wins—or loses? But pain is pain.”

 

 

Know My Name – Chanel Miller




Baca review lengkap di sini: https://www.expellianmus.com/2021/06/menemukan-harapan-dan-suara-know-my.html 

            Maaf ya, saya kayaknya nggak bisa berhenti ngomongin buku ini di mana-mana karena emang bagus banget! Oke, jadi buku ini adalah memoar oleh Chanel Miller yang menceritakan kisahnya sebagai penyintas pelecehan seksual yang dia alami di Stanford. Sebelumnya, Chanel Miller terkenal dengan nama Emily Doe lewat victim impact statement-nya yang diunggah di Buzzfeed tahun 2016 dan jadi viral. Bisa dibaca di sini: https://www.buzzfeednews.com/article/katiejmbaker/heres-the-powerful-letter-the-stanford-victim-read-to-her-ra

            Di buku ini, dia menceritakan lebih detail bagaimana proses pelecehan itu terjadi, bagaimana itu kemudian mempengaruhi hidup dia dan orang-orang di sekitarnya, dan yang juga jadi bagian cukup besar di buku ini adalah bagaimana melelahkan dan tidak manusiawinya proses hukum yang dia jalani buat memperoleh “keadilan”. Kita juga melihat bagaimana tidak adilnya penilaian publik terhadap pelaku pelecehannya—Brock Turner—karena dianggap “sayang” jika karier cowok itu hancur gara-gara terseret masalah ini (??).


Modern Family GIFs - Get the best GIF on GIPHY


            Selain materinya emang bagus dan sangat penting untuk dibaca, yang saya suka dari buku ini adalah walaupun ini memoar, tapi rasanya kayak baca literary fiction, karena memang tulisan Chanel Miller sebagus itu—tapi sayang dan mirisnya, yah, ini sama sekali bukan fiksi.

            Kutipan:

“Victims exist in a society that tells us our purpose is to be an inspiring story. But sometimes the best we can do is tell you we’re still here, and that should be enough. Denying darkness does not bring anyone closer to the light. When you hear a story about rape, all the graphic and unsettling details, resist the instinct to turn away; instead loo closer, because beneath the gore and the police reports is a whole, beautiful person, looking for ways to be in the world again.”

 

The Vanishing Half – Brit Bennett



The Vanishing Half ini adalah historical fiction yang menceritakan tentang saudara kembar Desiree dan Stella Vignes yang tinggal di kota kecil bernama Mallard. Di Mallard ini, isinya orang-orang kulit berwarna dan tergolong Negro (pada saat itu masih disebut Negro), tapi mereka termasuk yang kulitnya terang, termasuk si kembar Vignes, jadi sebenarnya kalau orang nggak terlalu memperhatikan, mereka bisa aja dikira orang kulit putih.

Suatu hari, pas mereka masih remaja, mereka memutuskan buat minggat dari Mallard. Mereka pergi ke New Orleans dan berusaha hidup di sana. Nah, suatu hari, Stella ninggalin Desiree. Bagian awal novel ini kita diajak ngikutin kehidupan Desiree yang setelah ditinggal Stella berusaha menghidupi dirinya sendiri, menikah sama orang kulit hitam, ada masalah sama suaminya, dan akhirnya bawa anaknya—Jude—balik ke Mallard lagi dan tinggal sama mamanya. Di sini Desiree masih berharap suatu hari bisa denger kabar dari Stella, karena dia putus kontak dan sama sekali nggak tahu saudara kembarnya ada di mana.

Nah, setelah itu kita melihat kehidupan Stella, di mana dia memutuskan buat pura-pura jadi orang kulit putih. Dan karena pada saat itu perbedaan warna kulit ini masih menjadi hal yang mencolok dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang banget, tentu aja hidup Stella jadi berubah drastis setelah berpura-pura jadi orang kulit putih. Dia nikah sama orang kulit putih yang kaya, tinggal di perumahan orang kulit putih, punya anak yang juga berkulit putih bernama Kennedy, bisa beli ini-itu, dan lain-lain, pokoknya kualitas hidupnya dan Desiree beda jauh. Tapi dia merahasiakan asal-usulnya dari suami dan anaknya. Jadi nggak ada yang tahu kalau Stella aslinya bukan orang kulit putih, dan nyimpen rahasia itu yang bikin hidup Stella jadi nggak tenang.

Di sini kita melihat bagaimana hidup mereka yang sangat jauh tapi mulai berhubungan lagi ketika kehidupan anaknya Desiree—Jude, mulai berinteraksi dengan kehidupan anaknya Stella—Kennedy, secara tidak sengaja. Dan aaaa saya suka banget!

Yang saya paling suka dari buku ini adalah narasinya Brit Bennett bagus dan indaaah banget tapi sangaat bisa diakses, nggak sulit dicerna, sambil tetap menyampikan poin-poin penting tentang ras, kelas sosial, dan juga gender. Ceritanya enak banget buat dibaca, padahal perspektifnya ganti-ganti, timeline-nya pun loncat-loncat karena di sini diceritain cerita dari 2 generasi, yaitu generasi Desiree dan Stella, dan juga generasi Jude dan Kennedy. Di sini kita bahkan juga diceritain detail kehidupan Jude dan Kennedy dari mereka kecil, love life mereka, sampai mereka dewasa.

Awal buku ini menurut saya emang agak membosankan, tapi begitu kita sampai di saat mulai terlihat bagaimana semua cerita ini bakal terkoneksi satu dengan yang lain, jadi keterusan baca. Pokoknya saya suka banget sama tulisannya Brit Bennett!

            Kutipan:

“She hadn't realized how long it takes to become somebody else, or how lonely it can be living in a world not meant for you.”

 

 

Anxious People – Fredrik Backman



AAAAAAA THIS IS THE BOOK FOR ME. The Book. T-H-E B-O-O-K. 

Buku ini buku favorit favorit favorit terfavorit saya tahun 2021 bahkan mungkin of all time.

Oke, jadi buku ini awalnya menceritakan tentang suatu perampokan bank yang gagal dan perampoknya kemudian lari dan masuk ke suatu apartemen yang lagi mengadakan semacam open house. Karena nggak bisa lari ke mana-mana, akhirnya perampok itu pun menjadikan orang-orang yang lagi ada di open house apartemen itu sandera. 

Nah dari situ kita mempelajari masing-masing kehidupan setiap orang yang ada di sana, apa yang sedang mereka hadapi di hidup mereka, dan kenapa akhirnya mereka bisa ada di apartemen itu. Selain itu, kia juga ngikutin kehidupan 2 polisi yang menangani kasus ini.

AAAA suka banget pokoknyaa! Saya waktu itu dengar audiobook-nya dan nggak bisa berhenti dengerin!! 

Tema besar yang saya dapat dari buku ini adalah gimana sebagai manusia, kita semua berusaha sebaik kita untuk menghadapi struggle masing-masing. Dan itu salah satu alasan saya suka buku ini—karena buku ini datang di waktu yang tepat buat saya. Waktu itu, saya juga lagi dalam fase yang kurang baik dan saya juga jadi mikir tentang masalah-masalah di hidup termasuk masalah mental (kayak depresi yang dibahas di buku ini), di mana kadang semua masalah itu bikin untuk bangun setiap hari aja membutuhkan usaha yang lebih, dan jarang ada yang “menghargai” mereka (atau kita) untuk sekadar “hidup”. Gampang banget buat ngomong ke orang kalau kamu tuh masih kurang ini-itu-ini-itu, padahal kita nggak tahu struggle apa yang udah mereka hadapi untuk bisa sampai di poin tersebut. Dan ini dikaitkan juga dengan proses adulthoodrelationshiplost, dan dibalut sedikit misteri aaaaa pokoknya bagus deh!

p.s buku bener-bener pas sama lagu This is Me Trying-nya Taylor Swift :’).


adrien dupain-cheng — speaknow: folklore: the long pond studio...


p.p.s saya pengin coba baca ulang buku ini tahun 2022 (sekalian mau beli buku fisiknya) :D.

Kutipan:

“This story is about a lot of things, but mostly about idiots. So it needs saying from the outset that it’s always very easy to declare that other people are idiots, but only if you forget how idiotically difficult being human is.”

 

The Midnight Library – Matt Haig



Buku ini bercerita tentang Nora, yang karena sudah putus asa sama hidupnya pada suatu hari memutuskan buat bunuh diri. Namun, alih-alih meninggal, dia sampai di suatu tempat transisi yang disebut “The Library”. Di dalam sini, semua buku adalah alternatif kehidupan dia, dan dia bisa (malah diharuskan) buat mencoba alternatif-alternatif tersebut.

Jadi dia pun kemudian mencoba berbagai kehidupan, mulai dari yang cuma berbeda dikit dari kehidupan aslinya (misal dia memutuskan kerja di tempat lain, nggak kabur waktu mau nikah sama pacarnya) sampai keputusan besar (milih karir yang berbeda dan dia akhirnya jadi artis terkenal, jadi ilmuwan, jadi ibu rumah tangga, dll) untuk mencari di kehidupan mana sih dia bahagia.

Saya tahu, banyak kritik buat buku ini yang katanya sangat tidak membantu buat orang yang mengalami depresi, karena buku ini semacam bilang ke kita (dan secara harfiah benar-benar ditulis di bukunya), kalau nggak bakal ada alternatif hidup yang bikin kita senang terus, jadi ya harus bersyukur, dll. Beberapa kalimat di buku ini juga semacam kalimat-kalimat motivasi yang udah terlalu sering didengar.

TAPI, kayak Anxious People, buat saya pribadi, buku ini datang di waktu yang tepat buat saya. Saya lagi nggak depresi, tapi baru aja mengalami suatu kejadian yang bikin saya sedih, dan premis buku ini tentang “emang kalau lo jalanin hidup versi lain lo bakal senang? Kalau lo sekarang nggak di posisi ini udah pasti bakal lebih bahagia?” dan berpikir dengan perspektif seperti itu cukup memberikan closure buat saya terhadap kondisi saya waktu itu.

Saya nggak bisa bilang kalau saya baca buku ini di waktu & kondisi lain apakah saya bakal suka juga, tapi yah, itulah reading experience, kan? Emang beda-beda setiap orang dan bisa sangat bergantung pada kondisi orang tersebut—termasuk buat orang-orang yang depresi dan merasa tidak terbantu dengan buku ini, itu sangat bisa dimengerti dan bukan tempat saya atau siapa pun buat bilang sebaliknya.

Kutipan:

“But it is not lives we regret not living that are the real problem. It is the regret itself. It's the regret that makes us shrivel and wither and feel like our own and other people's worst enemy.

We can't tell if any of those other versions would of been better or worse. Those lives are happening, it is true, but you are happening as well, and that is the happening we have to focus on.”

 

HONORABLE MENTIONS

 

Before the Coffee Gets Cold (1 & 2) – Toshikazu Kawaguchi




Buku ini bercerita tentang suatu kafe di Tokyo, yang salah satu kursinya bisa membawa orang kembali ke masa lalu atau ke masa depan dengan berbagai aturan yang cukup ribet tapi intinya sih, mereka yang berkunjung ke masa lalu dan masa depan itu nggak bisa mengubah atau melakukan apa pun yang akan mempengaruhi kehidupan mereka sekarang, dan mereka harus kembali lagi sebelum kopi yang disediakan dingin. 

Yang bikin dua buku ini sangat menyentuh adalah karena cerita-cerita yang dibawakan tuh sangat bagus (dan juga sedih)! Kita melihat gimana orang-orang yang duduk di kursi itu mencari kesempatan buat ngobrol terakhir kalinya sama orang yang nggak bakal mereka temui lagi di masa sekarang, dan yah, memang nggak bakal ngubah apa-apa, tapi di akhir, kita bisa melihat bahwa itu memberikan mereka closure.

Saya dengar audiobook dua buku ini langsung berurutan, jadi agak kecampur ceritanya di ingatan saya—yang jelas ada cerita tentang suami yang Alzheimer, kakak-beradik yang nggak pernah akur, suami yang ditinggal istrinya meninggal dan ternyata ada kesalahpahaman di antara mereka (ini bikin saya nangis paraah), tentang ibu yang nggak akan pernah melihat anaknya tumbuh besar, dan beberapa cerita lainnya.

Pokoknya sangat wholesome, menyentuh, dan baguss! 

Kutipan:

“And if the chair can change someone’s heart, it clearly has its purpose.”

 

They Never Learn – Layne Fargo



Buku ini bercerita tentang Scarlett, seorang dosen yang di waktu luangnya memburu dan membunuh laki-laki yang menurutnya pantas dihukum—pemerkosa, laki-laki abusif, stalkers, dan lain-lain—di mana karena dunia ini tidak adil, para laki-laki itu bisa lepas gitu aja dan nggak bertanggung jawab sampai akhirnya mereka dibunuh Scarlett.

Di sisi lain, kita juga ngikutin sudut pandang Carly yang merupakan mahasiswi di kampus yang sama kayak Scarlett. Nah, suatu hari si Carly ini menyaksikan sahabatnya diperkosa tapi pemerkosanya bisa bebas gitu aja dan nggak ada pihak yang mau bantuin dia mencari keadilan. Akhirnya dia jadi terobsesi mikirin gimana caranya bales dendam buat sahabatnya.

Buku ini asik banget buat dibaca! Thriller yang seru, fast-paced, kayak nggak bisa berhenti aja pas baca padahal sebelum baca buku ini saya lagi kena reading slump + buku-buku yang saya baca kayak meh semua, sampai akhirnya membaca buku ini dan puaass. Ada plot twist juga yang bikin saya kayak “HAAAH” tapi juga “OH IYA YAA, masuk akal”


New trending GIF online: shocked, surprised, modern family, woah, luke  dunphy, nolan gould


Kutipan:

“They want us to bend and bend, let them say and do whatever they want to us. They get away with it, over and over again.”

 

In The Dream House – Carmen Maria Machado



Buku ini adalah memoar oleh Carmen Maria Machado yang ditulis seperti dalam narasi cerita horor klasik tetapi sebenarnya menceritakan pengalamannya berada di hubungan yang abusif. Menurut saya buku ini harus di-experience sendiri supaya tahu bagaimana isinya, karena memang yang bikin memoar ini menonjol dibanding memoar-memoar lainnya adalah penyampaian dan pengemasannya yang bagus dan indah, nggak kayak memoar pada umumnya (selain tentu isinya juga mengangkat topik yang penting untuk dibahas).

Kutipan:

“Love cannot be won or lost; a relationship doesn't have a scoring system. We are partners, paired against the world. We cannot succeed if we are at odds with each other.”

 

Kim Jiyoung, Born 1982 – Cho Nam-Joo, Jamie Chang (Translator)



            Buku ini menceritakan Kim Jiyoung yang tinggal di Korea Selatan dan lahir tahun 1982. Gimana hidupnya dari kecil, sekolah, kuliah, kerja, menikah, sampai punya anak. 

Yang bikin menarik, buku ini diceritakan dengan statistik yang diselipkan di catatan kakinya. Jadi, Kim Jiyoung itu kayak gambaran kehidupan perempuan generasinya pada masa itu. Contoh, Kim Jiyoung kesulitan dapat kerja dan nanti ada data statistik yang memang menyatakan bahwa hanya sekian persen wanita saat itu bisa bekerja di perusahaan besar dst. Data-data inilah yang mendukung cerita hidup Kim Jiyoung dan dari sini kita bisa melihat bagaimana budaya patriarkis saat itu masing sangat kental di Korea Selatan.

            Buku ini tipis, bisa dibaca dalam sekali duduk, tapi bagus dan puass bacanyaa!

            Kutipan:

            “The world had changed a great deal, but the little rules, contracts, and customs had not, which meant the world hadn’t actually changed at all. (...). Do laws and institutions change values, or do values drive laws and institutions?”

 

Yaayy itu tadi beberapa buku favorit tahun 2021, dan saya baru sadar nggak ada buku Indonesia yang masuk (karena emang 2021 hampir sama sekali nggak baca buku dari penulis Indonesia). Semoga tahun 2022 ini bisa lebih banyak baca buku Indonesia.

Terima kasih yang sudah bacaa hihi, see you lagi di blog ini (entah kapan) :D.

Modern Family S05E10 GIFs - Get the best GIF on GIPHY



0 komentar:

Post a Comment