Friday, June 29, 2018

,

Magnetto - Ninna Lestari


Judul: Magnetto
Penulis: Ninna Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama




Blurb:

Magne cuma tahu satu hal: dia benci orangtuanya. Keadaan tersebut membuat cewek itu berubah. Dia mulai melampiaskan amarahnya dengan berbuat onar di sekolah bersama teman-teman sekelasnya. Mereka menjalani kehidupan sebagai murid jurusan Jasa Boga dengan berbagai kenakalan yang menyenangkan. Seenggaknya hal itu mampu membuat Magne mengalihkan pikiran walau hanya sesaat.

Di tengah situasi tersebut, Magne mendapat masalah besar. Sialnya, masalah tersebut datang bertepatan dengan liburan tengah semester. Teman-temannya mendadak sibuk dan memiliki agenda lain. Bahkan, Netto—pacarnya—mulai berubah. Hal itu tentu saja membuat Magne merasa semua orang perlahan pergi meninggalkannya.

Lantas, mampukah Magne menyelesaikan masalahnya sendiri?

Magnetto bercerita tentang Magne, siswi kelas XII di SMK Negeri 22 Jakarta jurusan Jasa Boga. Cewek ini pacaran sama cowok sekelas yang namanya Netto. Doi dan Netto udah pacaran selama dua tahun.

Oh ya, dan karena dua tokoh itulah, judul buku ini Magnetto.

Oke, lanjut.

Seperti yang bisa dibaca di blurb-nya, Magne ini punya masalah keluarga. Orangtuanya enggak merhatiin dia, jarang ada di rumah, dll. Dan sekalinya ada di rumah ya kerjaannya berantem mulu. 

Untungnya, Magne punya sahabat di sekolah--Netto (yang juga pacarnya), Airin, dan Gama (pacarnya Airin). Mereka bertiga itu yang ngebantu Magne ngelewatin hari-hari kelamnya.

Dear Magne, tetaplah menjadi baik, sekalipun seluruh dunia menyakitimu. Dan teruslah menjadi kuat, nggak peduli seberapa keras pun orang lain menghancurkanmu. Kamu terlahir dengan sejuta keindahan. Jangan pernah biarkan keindahan itu perlahan hilang hanya karena kesedihan. Ingatlah, selalu ada orang-orang yang menyayangimu dan membutuhkanmu lebih dari apa pun.

Lantas, 'masalah besar' apa yang dihadapi Magne seperti yang tercantum di blurb-nya? Dan gimana ceritanya Netto bisa berubah?

Silakan dibaca sendiri ya! Hehe.




Saya beli buku ini karena saya lumayan suka sama debut penulis, Magic Banana (baca review-nya di sini).

Saya juga belum pernah baca soal anak-anak yang sekolah di SMK jurusan Jasa Boga jadi saya penasaran sama keadaan sekolahnya, dan rasa penasaran saya cukup terpuaskan.

Saya suka sama gambaran tentang sekolahnya. Resep-resep makanan yang diselipkan di dalam buku ini juga menarik. Tetapi yaaa, karena saya enggak terlalu suka sama makanan-makanan gitu, kadang saya bosen juga bacanya (ini subjektif banget, haha).

Dan omong-omong soal bosen, saya sejujurnya cukup bosen sama cerita ini. Kalau bahasanya Kak Ninna Lestari enggak asyik buat dibaca, saya mungkin udah DNF, karena apa ya... saya sejujurnya enggak tahu ini cerita konflik besarnya tuh apa--seenggaknya, saya enggak tahu itu sampai pertengahan buku.

Dari awal sampai setengah buku lebih, saya disuguhi keseharian si Magne--sekolahnya, keluarganya, pacarannya sama Netto, hubungan Magne sama teman-temannya, dll, dll. Tapi saya enggak nangkep konfliknya apaan.

Apalagi, saya adalah orang yang males banget baca blurb HAHA. Saya ini jenis orang yang (seringnya) baca blurb justru setelah selesai baca bukunya (ini serius). Jadi waktu beli ya, enggak baca blurb-nya, dan buku Magnetto ini salah satu buku saya perlakukan demikian. Karena itulah, saya enggak tahu kalau Magne bakal mengalami 'masalah besar' seperti yang tertera di blurb-nya.

Barulah ketika saya udah lelah mengikuti keseharian Magne dan saya enggak sabar buat tahu konflik utamanya, saya baca blurb, dan oh, oke, saya tenang karena tahu bakal ada "masalah besar" selama liburan sekolah.

Tapi kok... ini pada enggak libur-libur ya? HAHA.



Akhirnya.. setelah hampir tiga per empat buku saya baca, barulah liburan tiba dan terjadi berbagai masalah di hidup Magne. Ya udah, baru deh saya bacanya cepat untuk seperempat buku terakhir karena udah ada pemicu berupa konflik.




Oke, oke, bukannya saya enggak suka sama keseharian Magne. Saya menikmati adegan pacaran Magne dan Netto yang enggak berlebihan dan pas. Persahabatan Magne dan Airin pun juga diceritakan dengan baik. Lingkungan sekolah Magne menarik tapi ya... udah.

Ini mungkin pendapat subjektif yaa, tapi saya merasa orientasinya kelamaan. Dan ada beberapa adegan--dan bahkan karakter--yang saya enggak ngerti tujuan ada di cerita ini tuh apa.

1. Adegan ke panti jompo.

Serius, ini saya bacanya males banget, alhasil cuma saya skip-skip aja. Oke, oke, mungkin adegan ini tuh buat nunjukkin kasih sayang dan pelajaran cinta bla bla bla, tapi itu kan, bisa didapat dari tempat lain?

"Dalam cinta, akan selalu ada penghalang. Entah kehadiran orang ketiga atau karena masalah menimpa. Yang perlu kalian lakukan hanya terus bertahan. Kalau yakin, kalian pasti mampu menembus penghalang itu dan menemukan sesuatu yang indah di baliknya."

Atau buat nunjukkin ke-tidak-egoisan Magne? Ah, tapi abis dari panti jompo masih sama aja kok.

Ya sudahlah. Gapapa :).

2. Kak Adrian.

Ini maksudnya ada dia tuh apa? Saya gagal paham. 



Oke, saya ceritain dikit. Kak Adrian ini adalah tetangga Magne yang lebih tua empat tahun dari Magne. Waktu kecil, Kak Adrian adalah teman main Magne. Doi kemudian kuliah di luar kota dan setelah empat tahun kemudian balik lagi ke Jakarta.

Dan spoiler (gatau sih, spoiler apa enggak, abis sejak awal kemunculan dia, saya udah bisa nebak kalau) Kak Adrian itu naksir Magne. Cinta terpendam gitu de.

Saya enggak ngerti dampak dia di cerita ini apaan. Sebagai penghalang hubungan Magne dan Netto? Enggak tuh. Magne sama sekali enggak tertarik sama Kak Adrian dan Netto juga kelihatannya enggak terganggu sama Kak Adrian (selain tatap-tatapan ala musuh perang, tapi setelah itu ya udah, enggak diungkit-ungkit lagi).

Atau sebagai penunjuk kepada pembaca bahwa Magne ini sebetulnya banyak yang sayang? Idk.

Terus ada penjelasan Kak Adrian pergi kuliah tanpa ngasih kabar selama empat tahun ke Magne. Tapi enggak dijelasin tuh, kenapa dia enggak ngasih kabar.

Untuk menata hati?

Atau apaaaa?



Saya masih bisa paham kenapa ada Amanda (cewek yang ceritanya naksir & ngejar-ngejar Netto banget). Cewek itu sempat nimbulin subkonflik Magne-Netto, jadi saya masih bisa terima laah.

Tapi oke, deh, enggak apa-apa. Semoga Kak Adrian cepat move on, ya.

Menyadari bahwa demi mencapai suatu tujuan, kita harus terus bergerak maju. Meninggalkan segala kenangan yang pernah tertoreh di belakang.

Kalau masalah saltik, saya enggak nemu banyak, tapi ada yang saya bingung:

maunya gue atau aku? hahaha


Dan oh, sama ada ini:




Saya benar-benar bingung sampai baca ulang itu paragraf sepuluh menit dan tetap gagal paham.

Gimana bisa rok selutut nyapu lantai?

Dia jalannya gimana sih? *penasaran betulan*

Apa maksudnya setumit?



Dan oh yaaa, satu lagi yang saya sayangkan adalah tentang maksud judul dan isinya. Buat judul yang tercipta dari gabungan dua karakter cewek-cowok, saya pikir buku ini bakal nonjolin ke cerita Magne dan Netto, seperti di Fairish, misalnya.

Tapi, enggak.

Cerita ini lebih fokus ke masalah keluarganya Magne.

Dan saya sama sekali enggak ada masalah sama cerita yang enggak fokus ke pacaran dan nekenin masalah keluarga. Yang saya sayangkan adalah, kenapa Magnetto yang dijadiin judul ketika masalah keluarga di sini lebih ditonjolkan?

Oke, Magne dan Netto pacaran. Oke, mereka so sweet, saling mengerti satu sama lain, selalu ada buat satu sama lain, menghargai, oke, oke, oke.

Oke juga mereka berantem, oke mereka baikan.

Tapi konflik mereka enggak semenegangkan konflik utama (masalah keluarga Magne). Gimana pun juga, konflik utama yang memicu pertengkaran hebat Magne dan Netto (silakan baca sendiri kalau penasaran).

Tapi yaa udahlah, judul doang. HAHA. Ribet banget sih, gue.

Namun, terlepas dari kekurangan-kekurangan di atas, saya suka sama pesan yang disampaikan buku ini: tentang persahabatan, pacaran yang saling mendukung, keluarga, cinta, pengertian, dan banyak lagi!

(p.s di cerita ini ada beberapa konflik tentang 'selingkuh', dan ini momennya pas banget abis saya nonton Black Mirror yang episode The Entire History of You. Haha. Jadi kebayang-bayang :( wkwkw. #abaikan.)

Ini ada beberapa kutipan yang saya suka dari Magnetto.

Di dunia ini, nggak ada manusia yang benar-benar buruk. Akan selalu ada--minimal satu--kebaikan yang dilakukannya. Daripada sibuk mencela kekurangan orang lain, kenapa kita nggak bercermin terlebih dulu?

--

Kalau segala sesuatu diberikan kesempatan kedua, dari mana kita belajar menghargai apa yang ada?

--

 "Kadang kejujuran memang menyakitkan. Tapi nggak semua yang menyakitkan itu akan berakhir buruk. Kebohongan dengan niat paling baik sekalipun, akhirnya bakal jadi bumerang yang siap berbalik membunuh kita kapan pun."

--


"Kehilangan sesuatu yang berusaha kita genggam erat itu emang menyakitkan, tapi pada tangan yang bebas, kita bisa memilih pegangan yang lebih pas dan nggak akan lepas."

--

Karena aku yakin, selagi ada keinginan, apa pun bisa jadi mungkin.


Terakhir, 2 dari 5 bintang buat nasi tumpeng hehe.



0 komentar:

Post a Comment