Sunday, May 27, 2018

, ,

(Tetralogi Buru #2) Anak Semua Bangsa - Pramoedya Ananta Toer


 
Judul: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara


Blurb:
 
Roman Anak Semua Bangsa adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan di selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

Sebelum baca ulasan saya ini, saya mau ngasih tahu kalau ulasan saya ini agak berbeda dari ulasan saya biasanya yang santai. Ulasan kali ini agak serius karena sebetulnya ini tugas sekolah (hahaha).

Karena sayang kalau gak di-post, dan karena saya enggak mau blog saya berdebu tapi males bikin ulasan baru , saya post aja deh, hehe.

Oke, lah, selamat membaca :D.



            “Anak Semua Bangsa” merupakan buku kedua dari Tetralogi Buru, yang terdiri atas “Bumi Manusia”(baca ulasan saya di sini), “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, dan “Rumah Kaca”.

            Dengan latar Indonesia pada awal abad ke-20, Pramoedya melanjutkan kisah Minke, seorang pribumi Jawa tamatan H.B.S, yang setelah masalahnya dengan Pengadilan Putih di buku pertama, mulai mengalami pergulatan batin antara kekagumannya akan keagugan dan kehebatan peradaban Eropa dengan kenyataan bangsanya sendiri yang kerdil.

            Minke merupakan penulis yang cukup aktif untuk majalah Belanda, dan selama ini, dia tidak pernah merasa ada masalah menulis dalam bahasa Belanda dan untuk Belanda, karena baginya, Eropa adalah kiblat peradaban untuk segala hal, termasuk ilmu pengetahuan. Baginya, bangsa Indonesia (saat itu disebut Hindia) merupakan bangsa kerdil yang masih mengedepankan feodalisme. Minke yang terpesona oleh konsep Revolusi Prancis, berpikir bahwa seseorang tidak perlu sampai harus menunduk dan merangkak-rangkak untuk berbicara dengan seorang gubernur atau bupati, seperti yang selama ini dia lakukan ketika berbicara dengan ayahnya sendiri.

Akan tetapi, di buku kedua ini, banyak pihak yang mulai mendorongnya untuk menulis dalam Melayu—bahasanya sendiri, mereka meminta Minke menulis untuk bangsanya. Awalnya Minke menolak, dia pikir, mayoritas pribumi toh tidak memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga buat apa dia repot-repot menulis dalam Melayu?

            Namun, Minke mulai menemui banyak orang dan menghadapi banyak kejadian, yang membuatnya berpikir ulang tentang menulis dalam Melayu. Contohnya, dia bertemu dengan Khouw Ah Soe, seorang pemuda revolusioner dari Cina yang banyak memberi Minke informasi-informasi baru mengenai keadaan dunia—tentang Cina yang mulai bobrok, Jepang yang mulai bangkit, sandiwara Amerika Serikat dengan Spanyol di Filipina, dan lain-lain.

            Minke juga beberapa kali ditohok oleh perkataan sahabatnya, Jean Marais, seorang pria dari Prancis yang prihatin terhadap bangsa Indonesia. Jean bersikeras bahwa Minke harus mulai menulis dalam Melayu, dan dalam beberapa kesempatan, hal ini membuat Minke dan Jean bertengkar.

            Nyai Ontosoroh, mertua Minke dan wanita yang sangat Minke hargai karena kecerdasan, kehebatan, dan ketabahannya, juga beberapa kali membuat Minke bertanya-tanya, apakah dia selama ini sudah benar? Apakah dengan menjadi siswa lulusan H.B.S dia pintar? Apakah mengenyam pendidikan Eropa sama artinya dengan mengenal Eropa?

            Berbagai kecurangan-kecurangan Eropa mulai dirasakan oleh Minke. Pertama, tulisan-tulisannya banyak yang ditolak oleh majalah Belanda tempatnya bekerja, salah satunya tentang kecurangan pabrik-pabrik tebu kepada petani. Kemudian, Minke juga bertemu dengan petani-petani Jawa dan berinteraksi dengan mereka langsung, sehingga dia merasakan penderitaan mereka. Lalu, perusahaan milik Herman Mellema yang dikelola dengan susah payah oleh Nyai Ontosoroh diambil alih begitu saja oleh Ir. Maurits Mellema. Belum lagi masalahnya dengan Annelies—mantan istri Minke yang direbut darinya oleh hukum Belanda, dan masih banyak lagi ketidakadilan yang dirasakan Minke.

            Dengan semua kontradiksi di dalam dirinya itu, Minke pun mulai mencoba mengenali Eropa dan bangsanya sendiri dengan lebih baik, karena dia mulai menyadari, bahwa dengan ijazah H.B.S pun, dia tidak lebih tahu dari pribumi-pribumi lainnya.


“Jaman modern ini telah menyampaikan padaku buahdada untuk menyusui aku, dari Pribumi sendiri, dari Jepang, Tiongkok, Amerika, India, Arab, dari semua bangsa di muka bumi ini. Mereka adalah induk-induk serigala yang menghidupi aku untuk jadi pembangun Roma! Apakah kau benar akan membangun Roma? Ya, jawabku pada diri sendiri. Bagaimana? Aku tak tahu.

Dengan rendahhati aku mengakui: aku adalah bayi dari semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya suatu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.”

(“Anak Semua Bangsa”, halaman 248)


Buku yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer di kamp kerja paksa ini merupakan buku yang sangat bagus dan membawa banyak sekali pelajaran di dalamnya. Dengan bahasanya yang sangat menarik dan khas, Pramoedya mengajak pembaca bukan hanya untuk memahami isi ceritanya, namun juga merenungkan tentang bangsa kita dulu. Bahwa merdeka tidaklah semudah penjajah datang, rakyat menyerang, lalu penjajah pergi. 

            Salah satu masalah yang ditampilkan Pramoedya di buku ini adalah bahwa masyarakat-masyarakat Hindia yang dijajah memang merasakan ketidakadilan, tapi mereka tidak pernah berpikir bahwa nasib mereka bisa berubah. Mereka tidak tahu, bahwa di luar sana ada negara-negara lain yang sudah meneriakkan kebebasan, mereka hanya kenal dunia mereka sendiri. Bahkan Minke yang berpendidikan pun, belum bisa melihat kecatatan dalam Eropa sebelum dirinya dicurangi oleh hukum Eropa itu sendiri.       

Menurut saya, bagian yang cukup penting untuk direnungkan dari buku ini juga adalah bagaimana Minke mengalami titik balik dalam hidupnya dan alih-alih mengejar pengetahuan-pengetahuan Eropa, dia menekuni dan terjun langsung ke kehidupan masyarakat pribumi. Keputusannya ini membawa Minke ke berbagai pemikiran-pemikiran baru, membuat pembaca juga ikut merasakan semangat sekaligus takut untuk tahu lebih banyak, ragu, senang, sedih, marah, dan lain sebagainya.

Pramoedya juga membuat cerita ini semakin menarik dengan pergolakan batin Minke yang mempertanyakan dirinya sendiri sebagai penulis. Minke selalu bangga akan profesinya sebagai penulis, karena pada saat itu, tulisan bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati oleh semua orang, hanya orang-orang berpendidikan saja yang bisa membaca, dan mengingat jumlah pribumi yang berpendidikan sangatlah sendikit, tak heran Minke pun merasa spesial. Bahkan, Nyai Ontosoroh pernah berkata kepada Minke, 

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudianhari.” 

Namun, kejadian-kejadian yang Minke alami membuatnya bertanya-tanya, apakah selama ini dia sudah menyuarakan hal yang tepat?

Pergolakan-pergolakan batin Minke itulah yang menjadi salah satu poin lebih dari buku ini, karena tanpa sadar, pertanyaan-pertanyaan Minke kepada dirinya sendiri itu juga dapat ditanyakan kepada kita sendiri dan membuat kita berpikir.

5 dari 5 bintang!

2 comments:

  1. walaupun baku (karena ini tugas sekolah #lol) aku tetep suka baca reviewmu,bikin pengen baca bukunya juga, ditunggu review buku ke-3 dan ke-4 nya ya!

    ReplyDelete