Friday, April 20, 2018

,

Operation: Head, Hurt, Heart - Sashi Kirana



Judul: Operation:Head, Hurt, Heart
Penulis: Sashi Kirana
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Komputindo



Blurb:

Sudah menjadi tradisi SMA Bima Sakti, setiap akhir semester satu, murid kelas 11 akan diberi tugas film pendek yang harus dikumpulkan dan akan ditayangkan di depan satu sekolah tepat sebelum kenaikan kelas. Sebagai seseorang yang mudah bergaul, Dandy tentu tidak keberatan menjadi ketua kelompok. Apalagi Dandy sekelompok dengan sahabat karibnya, Rama. Tapi, enam orang lain yang sekelompok dengan mereka membuat Dandy keberatan. Adriel—berandalan sekolah yang semaunya, Cyril—laki-laki gondrong yang penyendiri, Audi—kutu buku yang pendiam, Siena—perempuan genit yang butuh afeksi, Kiana—perempuan biang gosip yang suka mengoceh, serta Niki—perempuan maskulin yang tidak pedulian.

Pribadi mereka tampaknya terlalu bertolak belakang, membuat Dandy harus memutar otak untuk menyatukan kelompok agar dapat membuat film pendek yang tidak memalukan. Untungnya, Dandy berhasil menemukan satu cara ampuh: mereka akan melakukan permainan yang akan didokumentasikan untuk menjadi film dokumenter. Satu permainan mudah, jangka waktu enam bulan, delapan orang pemain, dan delapan orang lain sebagai target untuk didekati. Siapa yang paling pertama jadian atau membuat sang target menyukainya, dialah pemenangnya. Mudah dan menyenangkan, bukan?

Operation: Head, Hurt, Heart (selanjutnya akan saya singkat OHHH aja biar gampang, hehe), bercerita tentang delapan anak yang sekelompok dalam tugas tahunan sekolah buat bikin film pendek yang nantinya bakal ditayangin di depan satu sekolah.

Ini saya ceritain sekilas aja ya tentang anak-anaknya.

Pertama, ada Dandy si ketua kelompok. Dia ini anaknya baik banget ceritanya. Kayak ramah, supel, sabar, penyayang, dll. Dan btw dia juga sahabatan sama Rama (salah satu tokoh utama di OHHH).


Dandy.


 Oke, galucu bye HAHAH.

Kedua, ada Rama, sahabatnya Dandy yang pendiam, tapi sebenarnya asik dan baik kalau udah deket dan kenal. Dan kabarnya, Rama ini gampang bikin cewek-cewek baper dengan segala sifat diam-diam menenggelamkan menghanyutkan itu.





Kemudian, ada Adriel, si cowok cuek yang terkenal sebagai berandalan sekolah dan kabarnya punya tato besar di punggung dan pakai narkoba. Tentu aja, pas tahu sekelompok sama Adriel, anak-anak yang lain pada segan dan takut diapa-apain sama Adriel gitu, soalnya tampangnya emang garang banget.





Terus ada Kiana. Cewek cerewet yang enggak bisa berhenti ngomong. Apa ajaaa diomongin sama dia, sampai bikin orang-orang yang denger capek, padahal yang dengerin diem aja. Wkwk.

Tapi kalau kata Kiana sih, 

"Dan asal lo tahu aja, gue nggak cerewet! Gue cuma suka membicarakan apa yang gue pikirkan."

Oke, deh. Lanjut, ya, baru empat nih. Wkwk.

Selanjutnyaa, ada Niki. Cewek maskulin yang kayaknya menyesal dilahirkan sebagai cewek. Teman-teman dekatnya cowok dan hobinya main basket sama lari. Nyaris enggak punya temen cewek, urakan, dan cuek banget. Dia juga sinis dan kesel sama cewek-cewek model Kiana sama Siena yang kerjaannya ngomongin cowok mulu.

"Seumur-umur, Niki tidak pernah senang bergosip, apalagi mendengar perempuan seumurannya bergosip. Isi omongan mereka hanya berputar di topik yang sama: laki-laki, make up, artis, lagu pop yang sering terdengar di radio, orang yang mereka benci, dan laki-laki--ya, Niki sadar bahwa ia menyebut 'laki-laki' dua kali."





Kemudian, ada Siena! Dia adalah cewek yang terkenal di SMA Bima Sakti--sekolah mereka--karena kecantikan dan kebiasannya gonta-ganti pacar sesering saya bernapas.

...

...

...

Oke, itu serem.

Tapi ya, ngerti kan maksud saya? Wkwk.

Lanjut! Cewek terakhir di kelompok ini adalah Audi. Cewek pendiam yang teman dekatnya adalah buku-buku. Dia kayak mendapat kesenangan dari baca buku (termasuk buku pelajaran), dan dia emang anaknya males bersosialisasi. Menurut dia, punya teman itu enggak terlalu penting karena dia sekolah dan tujuannya buat belajar, dll, dll.




Daann... yang terakhir adalah Cyril! (Saya enggak yakin selama baca buku ini saya nge-pronounce nama dia dengan benar. Saya sih bacanya 'Siril' HAHA. Oke ini penting enggak, sih?)

Dia adalah cowok yang kerjaannya main gitar mulu di ruang musik. Enggak punya teman dan rambutnya gondrong banget, tapi selalu bebas dari razia rambut di sekolah (kalau Cyril masuk sekolah saya, enggak perlu ada razia, langsung dipotong rambutnya sama guru di kelas wkwk). Tapi nanti ada penjelasannya kok, kenapa si Cyril ini bisa selalu bebas razia rambut.

Okee, jadi itu dia delapan tokoh utama di novel ini. Coba absen dulu, yuk, takut ada yang kelewat.

1. Dandy. Check.

2. Rama. Check.

3. Adriel. Check.

4. Kiana. Check.

5. Niki. Check.

6. Siena. Check.

7. Audi. Check.

8. Cyril. Check.

Nah, ceritanya mereka berdelapan berencana buat bikin The Avengers film dokumenter tentang tantangan atau permainan yang mereka bikin gitu. Jadi di tantangan ini, setiap orang dapat satu nama buat dideketin dari temen satu kelompoknya.

Dan tentu aja dong, ada anak-anak iseng nan laknat yang ngasih tantangan / nama orang yang susah banget dideketin, wkwk.



Dan nanti, setiap anak ini wajib nge-video-in proses PDKT mereka. Yang bisa pacaran dan tahan sampai masa tantangannya berakhir, dia menang.



Yaay! Lihat, setelah ditelantarkan berbulan-bulan, akhirnya saya balik lagi buat nge-review buku! Hehe. Iya, ini review pertama saya di tahun 2018 yay for me.

OHHH adalah buku cetak ketiga Sashi Kirana (atau nama Wattpad-nya kirskey). Salah satu bukunya yang udah terbit adalah The Gamers yang udah sempat saya review (baca review The Gamers di sini).


Saya udah penasaran banget sama cerita OHHH sejak Sashi bilang ceritanya ini bakal diterbitin. Waktu itu pernah sih, baca bagian awalnya di Wattpad, tapi belum selesai baca dan Sashi juga udah keburu hapus ceritanya dari dunia Wattpad, jadi ya udah.

Pas nemu bukunya di toko buku, saya pun langsung beli, tapi enggak langsung dibaca karena bukunya cukup tebel buat ukuran teenlit, dan saya agak males bacanya hahaha. Tapi terus saya akhirnya baca dan awalnya emang saya agak bosen, sih, dan saya cukup kesulitan 'mengenal' karakter-karakternya yang cukup banyak dan saya harus bolak-balik mikir kayak,

"Wait, Kiana tuh yang cerewet apa yang genit?"

"Cyril tuh yang berandalan atau yang suka main gitar?"

Dan sebagainya, lah.

Tapi bagusnya adalah... itu enggak berlangsung lama karena penokohannya bagus bangeet! Saya udah bisa mengenali karakter-karakter mereka di bab-bab awal dan sukaa! Maksudnya, saya tahu nulis karakter sebanyak itu dan ngejaga gimana caranya mereka bisa konsisten itu SUSAH BANGET OKE. Dan satu bab itu POV-nya bisa ganti-ganti jadi wow, saya benar-benar salut soal penokohan.

Salut HEHE. Abaikan


Soal ceritanya sendiri enggak berat. Ide awalnya cukup unik (yang film pendek itu), tapi cerita teenlit-nya yaa cerita umum remaja aja. Kayak yang benci-jadi-suka, yang dia-bukan-tipe-gue-eh-tapi-kok-gue-naksir-dia-ya, yang gue-penasaran-sama-dia-dan-pengin-kenal-dia-lebih-jauh, terus yang berantem karena merasa dibohongin, dikhianati, dll, dll gitu.



Tapi bukan berarti ceritanya enggak bagus. Saya cukup menikmati baca buku ini, apalagi karena interaksi tokoh-tokohnya cukup lucu dan seru buat diikuti (saya paling suka perdebatannya Adriel-Kiana pas mereka baru kenal awal-awal banget HAHA, saya benar-benar ketawa bacanya).

Poin plus lagi adalah, ending-nya enggak pasang-pasangan. Maksudnya, mentang-mentang anggota kelompoknya 4 cewek dan 4 cowok, tapi kan, ya enggak harus pasang-pasangan gitu. Untungnya aja sih enggak bener-bener semuanya pacaran satu sama lain gitu, cuma hampiir aja semuanya wkwk.

Dan yang saya suka buku ini lagi adalah, enggak ada tokoh yang ngeselin alias terlalu jahat atau terlalu baik yang bener-bener enggak masuk akal. Semua karakternya realistis dan yaa, suka deh pokoknya, hehe.

Ini ada halaman yang saya suka banget di bagian awal buku ini, isinya kayak gini:

Cerita ini dibuat karena

tidak semua cewek cantik yang gaul punya otak pas-pasan dan tidak peduli prestasi;

tidak semua cowok urakan yang suka membangkang punya masalah dengan keluarganya;

tidak semua cewek cerewet yang biang gosip punya pemikiran dangkal;

tidak semua cowok pendiam yang berkacamata culun dan tidak pandai bergaul;

tidak semua cewek rajin yang hobi membaca buku adalah kutu buku yang tidak punya teman;

tidak semua cowok misterius yang temannya hanya musik tidak bisa diajak bercanda;

tidak semua cewek tangguh yang suka berteman dengan lelaki itu tidak punya perasaan;

tidak semua cowok supel yang hidupnya tampak sempurna bisa selalu bahagia;

tidak semua impresi dan ekspektasi harus direalisasi;

dan semua orang punya ceritanya sendiri.

Sama satu lagi... kover sama desain dalemnya BAGUS BANGET. Saya sukaaa AAA.



Tapi, ada beberapa hal yang pengin saya komentari dari buku ini. Dikit aja kok, enggak banyak-banyak, wkwk.

Pertama dan yang paling penting adalah, saya penasaran, apa sih, sebenarnya tujuan SMA Bima Sakti bikin tugas film pendek kayak gitu? Pakai bilang jadi syarat kenaikan kelas lagi.

Ya, emang sih, enggak ada murid juga yang percaya itu bener-bener jadi syarat kenaikan kelas karena duh. Tapi terus, kalau udah gitu, apa yang menjamin murid-murid itu bakal bener-bener ngerjain tugas itu? Tugas harian kelas aja belum tentu dikerjain, apalagi tugas bikin film, yang enggak jelas nambah nilai apaan, buat apa, sama orang-orang yang baru dikenal lagi.

Oke, emang mungkin tujuan sekolah adalah supaya murid-murid angkatannya bisa saling mengenal atau apalah, tapi maksudnya, kenapa juga sekolah peduli murid-muridnya saling kenal apa enggak? Bukannya mereka punya urusan yang lebih penting kayak ngurusin kelulusan kelas 12, masuknya anak kelas 10, KBM biasa, dan masalah-masalah sekolah lainnya, lah.

Dan oke, mungkin SMA Bima Sakti punya alasannya sendiri yang enggak dikasih tahu ke pembaca karena cerita ini pakai POV murid dan murid-muridnyanya emang pada enggak tahu. Tapi kenapa enggak dibikin murid-muridnya tahu supaya pembaca juga tahu dan enggak jadi bertanya-tanya?

Lagian, balik lagi ke yang tadi. Kalau murid-muridnya enggak tahu alasan yang jelas kenapa mereka harus ngelakuin itu, kenapa mereka ngelakuin dan ngerjain tugas itu? Toh mereka juga tahu kok, tugas film ini bukan bener-bener syarat kenaikan kelas. Ya kan lucu, ada yang enggak naik kelas karena enggak bikin film pendek.

Dan ternyata, film pendek mereka pun akhirnya ditayangkan di depan seluruh warga sekolah pas mereka udah naik kelas HAHA. Ya udah, enggak apa-apa :).

Saya pikir, at least, di akhir bakal dikasih tahu gitu alasan SMA Bima Sakti ngasih tugas ini (kayak ada guru mereka yang ngomong atau gimana), tapi ternyata enggak.


Hahaha, maaf ya. Saya cuma penasaran.

Terus, hal yang saya bingungin juga adalah soal target-target mereka. Ada beberapa target yang enggak jadi dideketin tapi udah telanjur deket (saya enggak mau sebut namanya karena nanti spoiler), dan kayak ada potensi beneran jadian gitu, lho. Tapi terus tiba-tiba... hilang.

Enggak diceritain lagi gimana-gimananya. Cuma dikasih tahu 'blablabla mulai menjauh dari blablabla' atau malah, ada yang dibilang 'si anu masih suka sama (nyebut nama salah satu tokoh utama)' padahal udah enggak jadi target.

Yaa, saya sih cuma berharap ada sedikit kejelasan dari target-target yang ditelantarkan ini wkwk. Walaupun saya enggak berharap novel ini lebih tebal lagi (karena menurut saya udah pas), tapi penjelasan sedikit kayaknya enggak apa-apa.

Ngomong-ngomong soal tebal, emang novel ini cukup tebal (sekitar 400 halaman), tapi emang saya ngerti delapan tokoh itu banyak banget, dan mereka diceritain punya konflik masing-masing sehingga emang ceritanya jadi panjang. Saya enggak ada masalah sih sama itu, karena selain bagian awalnya yang agak ngebosenin, sisanya oke-oke aja.




Saya juga nemu ada sedikit saltik tapi enggak apa-apa karena masih dapat dimengerti haha.

Oke, overall, saya sukaa sama buku ini. Idenya sederhana tapi karena tokohnya bejibun dan disampaikan dengan ringan dan rapi, jadinya enak bacanya. Tulisannya Sashi kelihatan makin lama makin bagus! Sukaa! Semoga kedepannya makin keren lagi!

Terakhir, saya mau naruh beberapa kutipan yang saya suka dari buku ini.

"Orang-orang suka bilang apa tuh? Nakal boleh, bodoh jangan? Ah, omong kosong," potong Adriel, melanjutkan ocehannya. "Buat jadi nakal, lo harus bodoh dulu. Lo nggak boleh mikir apa pun waktu lo lagi ngerokok, minum, dan sebagainya. Terima ya, terima aja. Kalau lo mikir, lo nggak bakalan deh nerima apa yang disuguhin ke lo."

--

Rama memutar kedua bola matanya. "Nggak segitunya juga, Sien. Nggak mungkin dia berharap yang macem-macem dari gue. Gue orangnya bukan 'apa adanya' tapi 'ada apanya?'. Ngerti, kan?"





--

"Menurut gue, Nik, momen-momen yang menyenangkan dan berharga nggak perlu banyak percakapannya."

(sebenernya masih banyak lagi sih, kutipannya, cuma saya lupa nandain hehe).

Okeokee, terakhir 3,5 dari 5 bintang buat ceritanya, tapi karena saya suka sama kover dan desainnya, nambah 0,5 lagi hahaha, jadi... 4 dari 5 bintang buat karaoke dan drunk call malem-malem! HAHA.










 

8 comments:

  1. Wohoooo finally baca reviewnya An juga, ah kamu bikin penasaran nih sama novelnya, kayaknya seru gitu

    ReplyDelete
  2. Eeeeaa~
    Aku belum baca review ini, baru lihat ratingnya doang :") HUAHAHA
    Aku udah donlot di Gramed Digital, tapi masih baca buku lain. Yang ini masih kepending.

    Baca blogku yuk, An. Post terakhirku ada cerita wp mu loh HAHAHA

    ReplyDelete
  3. Biasanya tugas bikin film gitu bisa dari ekskul ya, wkwkwk.

    Btw, udah dari lama aku iya-enggak pengin beli + baca OHHH, dan sekarang aku udah ngerasa mantep. :3

    Review-nya lengkap dan bagus. ^3^b

    ReplyDelete