Monday, January 6, 2020

,

Radio Silence - Alice Oseman


Judul: Radio Silence
Penulis: Alice Oseman
Penerbit: Harper Collins


Blurb:

Frances Janvier spends most of her time studying.


Everyone knows Aled Last as that quiet boy who gets straight As.


You probably think that they are going to fall in love or something. Since he is a boy and she is a girl.


They don’t. They make a podcast.


In a world determined to shut them up, knock them down, and set them on a cookie cutter life path, Frances and Aled struggle to find their voices over the course of one life-changing year. Will they have the courage to show everyone who they really are? Or will they be met with radio silence? 

Radio Silence bercerita tentang Frances, si cewek ambis yang selalu dapat nilai bagus di sekolahnya, di awal buku ini dia diceritain jadi head girl di tempat dia sekolah.

Cita-cita Frances selama ini cuma satu--masuk jurusan English Lit di Cambridge. Seluruh kegiatan dia berputar di tujuannya itu, termasuk jadi head girl karena bakal bikin bagus CV-nya dan dia bisa diterima di Cambridge.

Frances nyebut dirinya di sekolah dan dalam mode ambis adalah School Frances.

I almost always did work when I got home because whenever I wasn't doing schoolwork I felt like I was wasting my time.

Namun, dia sendiri merasa bahwa School Frances bukan Real Frances. Diam-diam dia suka dengerin podcast cerita di YouTube namanya Universe City. Dia bahkan aktif banget di fandom itu dengan suka upload fan art-nya di Tumblr dengan nama samaran @touloser.

Hello.

I hope somebody is listening.

I'm sending out this call via radio signal--long out-dated, I know, but perhaps one of the few methods of communication the City has forgotten to monitor--in a dark and desperate cry for help.

Things in Universe City are not what they seem.

I cannot tell you who I am. Please call me... please just call me Radio. Radio Silence. I am, after all, only a voice on a radio, and there may not be anyone listening.

I wonder--if nobody is listening to my voice, am I making any sound at all?

[...]

Nah, ceritanya suatu hari waktu dia kenalan sama Aled Last. Aled Last ini sebenernya tetangganya dia--Frances bahkan dulu temenan sama kembarannya Aled--Carys Last--sebelum kemudian Carys kabur dari rumah dan nggak tahu ke mana. Frances nggak pernah ngobrol sama Aled karena Aled pendiam banget dan Frances cuma sering lihat Aled karena Aled itu temen deketnya Daniel Jun--head boy sekaligus "rival"-nya Frances di sekolah.

Oke, singkat cerita Frances pertama kali ngobrol sama Aled waktu Aled mabuk dan Aled nggak sengaja ngutip kata-kata khas dari Universe City. Frances kaget, dong--dia nggak nyangka ada yang denger Universe City juga.


Image result for universe city radio silence


Pas dia nanya Aled dengerin juga atau nggak.. ternyata Aled adalah Radio Silence a.k.a narator misterius di podcast itu! 

Singkat cerita dari situ Frances dan Aled jadi dekat. Liburan summer mereka habiskan dengan bikin podcast, ngomongin Universe City, dan bukan cuma itu aja, tapi mereka ternyata punya banyak kesamaan selera dan di sekitar Aled, Frances merasa bisa jadi Real Frances tanpa dianggap aneh.

"I never told anyone about Universe City," he said, glancing back at me. "I thought they'd think I was weird."

There were a hundred things I could have said in reply to that, but I just said:

"Same." 

Namun, suatu hari mereka ribut karena sesuatu hal. Belum lagi Frances juga sibuk sama pendaftarannya ke Cambridge, dan mereka jadi agak jauh. Aled juga mulai masuk kuliah dan menarik diri dari Frances bahkan Daniel, sahabatnya.

Apa yang terjadi sama pertemanan mereka? Bagaimana kelanjutan Frances ke Cambridge? Dan... apa yang terjadi sama Carys Last? Universe City?

Silakan baca sendiri! Dijamin nggak nyesel! :D

Image result for universe city radio silence


Okee, jadi buku ini adalah buku pertama yang saya baca di tahun 2020 dan sama sekali nggak nyesel! Langsung jadi salah satu buku favorit saya! 

Pertama saya bahas karakter-karakternya dulu, ya.

Frances Janvier

Seperti yang sdah saya sebutkan di atas, Frances merasa dia bisa menjadi School Frances yang ambis dan membosankan, yang nggak pernah nyambung di percakapan teman-temannya, yang selalu serius, yang sudah tahu hidupnya bakal gimana, sudah punya rencana A B C dan D habis lulus SMA, dst.

What else were you supposed to do when you got the best grades in the class, without fail, every single year?

Sementara di rumah dia adalah Real Frances, yang suka dengerin podcast cerita fantasi, bikin fan art, pakai baju-baju aneh, bahkan dia juga masih nggak yakin sama pilihan hidupnya.

I was boring when I was with my school friends. I was quiet, work-obsessed, boring School Frances.


I wasn't like that when I was with Aled.

Saya rasa mungkin hampir semua orang bisa relate sama Frances, makanya banyak banget yang suka buku ini. Frances terasa dekat banget sama kehidupan kita (walaupun kita mungkin nggak seambis dia), tapi cara dia ngomong sama diri dia sendiri, cara dia bilang dia cuma banyak asal omong aja, dia nggak sehebat yang orang-orang pikir, dia nggak seambis itu, dst, bener-bener real dan kita bisa relate ke dia.

I'm well-practiced in the art of bullshitting.

Arc-nya Frances berputar di kehidupan akademik dia (dia nyadar tentang jurusan yang dia ambil dsb) dan di kehidupan sosial dia (tentang pertemanan dia dengan Aled, bahkan dengan Carys), dan juga ada sedikit tentang orientasi seksualnya.

Aled Last

Aled Last always looked a little like a child who'd lost their mum in a supermarket.

Aleeedd! Saya suka banget sama dia. Cowok pendiam yang kayak caught up in his own world. Kelihatannya satu-satunya hal yang benar-benar menarik buat dia adalah podcast Universe City-nya. Podcast itu sebenarnya cerita fantasi/sci-fi, tapi ya kalau dilihat lebih jauh itu sebenarnya keluhan dia terhadap education system dan keengganan dia masuk kuliah (universe city = university).

Saya kadang gemas sendiri sih sama Aled yang suka nyimpulin segala-galanya sendiri sampai ngejauhin Frances dan Daniel (yang bagian Daniel ini sedih banget! Baca sendiri deh pokoknya hehehe).

Saya juga sedih banget sama Aled buat semua masalah yang dia hadapi di rumah sama ibunya. Saya nggak bisa bilang di sini tanpa spoiler pokoknya menyedihkan deh.

Saya suka banget sama hubungan Aled dan Frances. Nggak ada cerita romance di antara mereka dan ini jarang banget di novel-novel young adult, tapi berhasil banget di buku ini dan justru di situ juga poin plusnya.

He laughed again and hid his face under the blanket. "Why are you so nice to me?"


"Because I'm an angel."


"You are." He stretched out his arm and patted me on the head. "And I'm platonically in love with you."


Saya juga suka karakter-karakter sampingan di buku ini, kayak mamanya Frances (stan!), Rain Sengupta, Daniel Jun, dan Carys Last. Mereka keren-keren banget dan porsinya pas.

Vibes novel ini mirip sama novel-novelnya Rainbow Rowell, sih, terutama Fangirl (baca review Fangirl di sini). Jadi kalau kalian suka Fangirl pasti bakal suka ini. Bedanya kayak yang tadi saya bilang, di novel ini nggak ada cerita romance di antara dua tokoh utamanya (ada romance 'sampingan') dan novel ini lebih diverse--mulai dari ras karakter-karakternya sampai orientasi seksual mereka.

Ini ada beberapa kutipan yang saya suka dari Radio Silence.

He smiled back. "We are part of some giant mistery."

"Do you want to be famous?"

"I just... want to be special."

"You are special."

He laughed and said, "Shut up."

--

"I think everyone's a bit bored with boy-girl romances anyway."

--

"When you get to this age, you realise that you're not anyone special after all."

--

"We were so important to each other. We'd tell each other everything and anything. We were each other's first everything. First and only everything. He's--he's an angel."


I didn't think I'd ever heard anyone speak about someone else like this before.

--

You may be very small but you are all very important to the universe.

--

"We are going to bring beautiful things into the universe."

Terakhir saya kasih 5 dari 5 bintang buat Universe City!


Image result for universe city radio silence

0 komentar:

Post a Comment