Saturday, December 29, 2018

,

G & G - Alicia Angelina


Judul: G & G
Penulis: Alicia Angelina
Editor: Birulaut
Penerbit: RDM Publishers





Blurb:


Bagi Naufal, Gina itu adalah suatu musibah.

Bagi Gina, Naufal itu adalah sebuah anugerah.

Berteman sejak kecil tidak membuat mereka akrab. Naufal tetaplah Naufal, cowok dingin yang paling tidak suka diganggu, apalagi oleh makhluk bernama Regina Atmidjojo. Naufal selalu menganggap kehadiran Gina adalah suatu petaka, sampai akhirnya Ghana, pentolan dari SMA Taruma Negara yang terkenal berandal dan pesonanya yang menawan, hadir dalam kehidupan Gina. Selain karena sifat Ghana yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Naufal, hal lain yang membuat Gina tertarik dengan cowok itu adalah karena misteri masa lalunya. Kehadiran Ghana mampu membuat Gina lupaakan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, namun kehadiran Ghana juga mampu membuat Naufa lresah.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan Ghana begitu gencar mendekati Gina? Dan, ada apa di balik masa lalu Ghana, sehingga Gina merasa bahwa ia harus ikut andil di dalamnya? Dan yang terakhir mengapa Naufal mulai merasa kehilangan?





G & G bercerita tentang Gina, cewek kelas dua SMA yang di awal ditunjukkin naksir berat sama Naufal--temannya dari kecil yang dingin, jutek, irit ngomong, dll.



Nah, seperti yang udah bisa ditebak, Naufal enggak peduli sama Gina. Tapi Gina sangat optimis bisa deketin Naufal.

"Intinya sikap optimis Gina-lah yang membuatnya dapat tetap bertahan, walau Naufal selalu menganggapnya 'kasat mata'."

((omong-omong, itu harusnya 'kasatmata' dan kasatmata kan artinya kelihatan... mungkin maksudnya 'tidak kasatmata kali, ya))

Terus, ada suatu adegan di mana Gina lagi ngintilin Naufal terus ketabrak motor. Ternyata yang nabrak itu Ghana, pentolan SMA Taruma Negara, yang tentu aja, musuhan sama sekolahnya Gina & Naufal--SMA Bunda Bangsa.

Berkat beberapa kebetulan, Ghana bisa kenal sama Gina, terus dekat, dan seterusnya. Padahal, udah ada tanda-tanda kalau Ghana dan Gina itu punya masa lalu yang saling terakit dan penuh misteri.

Ada beberapa konflik lain juga di sini, kayak konflik adiknya Gina sama Ghana, konflik keluarganya Ghana, Gina, Naufal, dan lain-lain. Cuma secara garis besar ceritanya kayak gitu, sih.

Nah, gimana kelanjutan ceritanya?

silakan bacaa! :D


Sejujurnya, saya enggak ingat kapan saya beli buku ini, apalagi alasannya, haha. Kemarin saya lagi lihat-lihat rak buku saya, niatnya pengin nyari buku ringan yang bisa saya baca sebelum 2018 berakhir, buat nambah-nambahin buku yang udah dibaca di Goodreads, haha.

Terus saya lihat buku ini. Mungkin saya beli karena sampulnya bagus kali, ya. Dan saya udah pernah bilang di salah satu review saya kalau saya jarang baca blurb. Paling cuma sekilas aja. Jadi, saya enggak begitu tahu cerita ini tentang apa waktu beli. Karena penasaran, akhirnya saya coba baca. Sebelumnya, saya cek Goodreads dulu, tapi ternyata buku ini bahkan belum ada di database-nya ((jadi dengan niat saya yang masukin wkwk)).

Oke, mulai bahas bukunya! (Peringatan: Review ini mungkin mengandung beberapa spoiler. Dan maaf kalau beberapa pendapat sangat subjektif.)

Saya suka cover-nya. Itu salah satu poin plus. Saya juga suka beberapa 'amanat' yang diselipkan di buku ini. Tapi sisanya... ya saya kurang suka :D. Mungkin enggak cocok buat saya kali, ya.

Pertama, dari segi penyampaian cerita dulu, ya.

Yang paling menganggu buat saya, di dalam cerita ini terlalu banyak kata-kata semacam 'tanpa *sebut nama karakter* tahu, bla bla bla'. Yang kalau sekali-dua kali enggak apa-apa, tapi ini terlalu banyak buat saya :').

Ini saya kasih contoh beberapa yang saya tandain. Ada banyak lagi yang saya enggak tandain jadi enggak saya masukin, saya rasa contoh-contoh di bawah ini udah bisa mewakili maksud saya.



maaf blur haha















Hal-hal kayak gini enggak bikin saya penasaran. Kalau kebanyakan malah bikin saya capek. Terus ada beberapa yang kemudian ketahuan di beberapa halaman selanjutnya dan itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Cuma ya udah gitu doang. Bisa kok disampaiin tanpa harus ngasih bocoran gitu.

Kemudian saya pribadi merasa kurang cocok sama narasinya. Di beberapa bagian terlalu fokus menjelaskan perasaan karakternya (dan itu hal yang bagus) tapi repetitif dan kalimatnya terlalu quotable jadi pusing bacanya. Maksudnya, bagus sih, buat dikutip jadi quotes gitu, tapi kalau dibaca berparagraf-paragraf saya capek juga, hehe.

Terus ada beberapa kata yang enggak tepat jadi maksudnya membingungkan. Contohnya 'kasatmata' tadi. Dan ada ini:


jadi dobel negasi gitu. kan saya bingung wkwk.


Ada beberapa kalimat yang enggak enak dan kurang jelas juga. Contohnya:


kata 'tatap' yang diulang itu kurang enak menurut saya.


ibu mau minta tolong? atau ibu mau tolong kalian? ..

Dua di atas hanya contoh aja, ya, yang kebetulan pas buka-buka buku ini saya nemu. Hehe. Saya enggak nyari yang lain :D.

Terus ada beberapa kalimat di narasi yang tiba-tiba pakai bahasa Inggris. Kalau di percakapan saya masih ngerti lah, ya, mungkin karakternya anak Jaksel emang nginggris, tapi beberapa tuh tiba-tiba muncul di narasi...

Dan kalau konsisten kayak buku-bukunya Ika Natassa menurut saya enggak apa-apa. Jadi emang dari awal karakter-karakternya suka mikir pakai bahasa Inggris, tapi waktu saya bilang di novel ini nginggrisnya tiba-tiba, itu tuh beneran tiba-tiba. Enggak ada angin, enggak ada hujan tiba-tiba pakai bahasa Inggris padahal sebelum-sebelumnya enggak. Terus abis itu enggak pakai bahasa Inggris. Ntar pakai lagi. Gitu, deh.

Hal itu agak menganggu aja sih, buat saya.

Dan ada satu lagi. Saya kadang merasa pergantian latar waktu sama tempatnya agak kurang smooth. Contohnya kayak gini:









Tapi cuma beberapa aja, sih. Di banyak bagian enak kok, digabung atau disampaikan secara tersirat &/ tersurat di dalam narasi.

Okee, terus sekarang ke ceritanya, ya.

Pertama, karakter-karakternya. Maaf ya, saya kurang bisa merasakan simpati untuk mereka.

1. Gina

Dia tokoh utama di novel ini. Cewek yang ngakunya biasa-biasa tapi tentu aja menurut orang-orang dia cantik. Gina merasa jadi orang paling menderita sedunia salah satunya karena orang tuanya enggak dukung cita-cita dia jadi penulis skenario film.

Alasan Gina berasumsi demikian adalah karena

a. Di meja belajar Gina selalu muncul buku-buku ekonomi. Dia mengasumsikan orang tuanya pengin dia sekolah bisnis, walaupun
b. Gina enggak pernah ngomongin soal jadi penulis skenario film sama orang tuanya, dan orang tuanya juga enggak pernah bilang secara langsung ke Gina buat sekolah bisnis.

Jadi kesengesaraan di hidup Gina tuh emang berdasarkan asumsi dia doang.

Dan waktu ditunjukkin bukti orang tuanya 'enggak dukung' dia... di situlah saya mulai habis kesabaran sama si Gina.

Jadi gini. Gina lagi di acara ulang tahun perusahaan besar. Acaranya formal gitu. Terus waktu Gina dateng, dia ngelihat ada orang-orang dari semacam stasiun televisi yang ngeoperasiin kamera buat ngeliput acara dan Gina pengin join bareng. Penasaran ceritanya.

Nah, terus mama tirinya si Gina enggak ngebolehin. Begini kata mamanya Gina: "Tolong bersikap layaknya seorang putri. Ini bukan taman rekreasi atau dunia hiburan. Mama enggak mau nanti ada klien yang liat sikap kamu kayak gini. Sebagai seorang anak dari pengusaha sukses, Mama mau kamu untuk bersikap anggun. Di sini ada banyak wartawan, jadi tolong jadilah seorang public figure yang baik."

(Abaikan aja ya kalimat enggak enaknya. Bahasan itu udah lewat wkwk.)

Emang mamanya Gina ada bilang Gina enggak boleh jadi penulis skenario film? Enggak kan? Dia cuma bilang kayak gitu dan Gina langsung serba melankolis. Merasa dia enggak bisa jadi dirinya sendiri, enggak bisa meraih cita-cita, yada-yada-yada.

Duh, gimana, ya. Emang kalau cita-cita saya mau jadi dokter, terus setiap saya ke rumah sakit saya harus ngintilin setiap dokter kerja? Ikut-ikutan masuk ruang operasi buat 'meraih cita-cita'?

Kalau cita-cita saya jadi polisi, lantas saya harus selalu nebeng di TKP dan ngikutin mereka kerja buat 'meraih cita-cita'?

Lalu apakah kalau cita-cita saya jadi pilot terus setiap naik pesawat saya harus ngikut pilotnya di kokpit buat 'meraih cita-cita'?

Dan ketika saya dilarang, apakah saya harus merasa jagat raya semesta alam galaksi planet langit bumi dan segala isinya enggak mendukung cita-cita saya??




Dan FYI, abis adegan Gina dimarahin, dia sedih, nangis, dan dibawa pulang sama Naufal.

Iya, Naufal.

Iya, cowok yang dingin itu.

Dan tentu aja, Ghana ternyata ada di situ dan melihat kejadian Naufal bawa Gina pulang dengan penuh penyesalan karena kurang cepet sampai ke Gina duluan.

:).

Oke, nanti saya sampai ke pembahasan tentang dua cowok itu, kok. Sekarang mau nyelesaiin Gina dulu :D. Hehe.

Gina itu model cewek baperan yang enggak nyadar dia baperan. Dia sadar dia baru kenal Ghana sebentar, tapi langsung mau-mau aja waktu Ghana nyatain (saya udah bilang bakal ada spoiler yaa) dan merasa kalau waktunya sia-sia nunggu Naufal yang enggak pernah 'ngelihat' dia.

Padahal, katanya, Gina udah suka ngintilin Naufal dari lama banget, lho. Masa dalam semenit langsung move on? (Beneran di narasinya ada tulisan 'satu menit'. Saya enggak mengada-ada.)

Gina tidak pernah menyangka kalau hanya butuh satu menit untuk membuka hatinya. Ia juga tidak pernah menyangka kalau ia dapat menemukan rasa nyaman itu dalam jangka waktu yang sangat singkat. Dan itu semua dikarenakan oleh satu orang.


Ghana.

Tapi ya, udah lah, ya. Namanya juga





2. Ghana

Duh, saya enggak tahu lagi mau ngomong apa buat cowok ini. Ghana itu model cowok-cowok bandel yang punya masa lalu kelam. Kerjaannya nyari ribut, tawuran, bolos, tapi tentu aja pinter, dan bokapnya yang punya yayasan sekolah.

:).

Dan oh tentu aja Ghana baik sama cewek. Dia enggak mau teman-temannya merisak anak cewek.

Ada adegan di mana temen-temennya enggak sengaja nyiram adek kelas cewek pakai air. Terus mereka kabur karena takut dimarahin waktu Ghana tiba-tiba dateng (where's the logic in that tapi ya udah). Ghana pun minjemin si adek kelas jaketnya dan nyuruh adek kelas ini buat ke UKS (buat minta baju ganti) pakai jaket dia.

Dan tahu apa? Adek kelasnya nanya kenapa dia harus pakai jaket itu ke UKS.

Terus Ghana jawab: (ini saya kutip aja ya)

"Daleman lo keliatan." Dan setelah mengucapkan hal itu, Ghana berjalan pergi, meninggalkan Fanya dengan wajah yang merah padam.

Peduli cewek? Ha... Ha... Ha...

Maksud saya, ngomong hal kayak gitu kan, enggak sopan banget. Bisa aja dia jawab "Udah, pakai aja jaketnya" atau apa gitu.

Udah gitu, habis ngomong langsung pergi lagi. Enggak bilang maaf atau apa. Seolah-olah mau nimbulin 'kesan' di adek kelas itu dan bikin si adek kelas tambah malu.

Lagian adek kelasnya kan cewek. Kalau ketumpahan air sampai basah kuyup gitu first instinct-nya kemungkinan besar penampilan dia. Apalagi katanya si adek kelas naksir Ghana. Masa dia sendiri enggak nyadar kalau bajunya sebasah itu sampai nanya kenapa harus pakai jaket ke UKS?


Terus karakter Ghana juga inkonsisten, dramatis, narsis, dan halu.

Jadi, di salah satu percakapannya sama Gina, Ghana ngomong gini:

"Saya memang orang yang susah untuk jatuh cinta, namun sekalinya jatuh, saya menjadi buta dan enggak bisa membedakan mana yang harusnya saya pertahankan dan mana yang enggak."

Nah, tapi Ghana kemudian mengaku kalau dia jatuh cinta pada pandangan pertama sama Gina.

"Bahwa ketika mata mereka bertemu, Ghana sudah jatuh pada iris kecokelatan milik Gina. Bahwa ketika Gina mulai berbicara, Ghana sudah terhanyut di dalam melodi indah milik gadis itu. Ghana tidak pernah tahu kalau jatuh cinta hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja, dan sekarang, Ghana setuju, kalau love at the first sight is real."

Hahaha.. ya sudah.

Oh ya, dijelasin sih, kenapa bisa gitu. Menurut Ghana, Gina itu mirip banget sama almarhumah ibunya. Ghana bahkan ngomong kayak gitu berkali-kali ke Gina.

Well, enggak tahu ya, cuma ngomong kayak gitu ke gebetan/pacar itu bukan compliment. Rasa sayang lo ke ibu lo enggak bisa lo samain sama rasa sayang lo ke pacar ... tapi... ah, ya sudah. Suka-suka Ghana, deh.

Terus Ghana kalau ngomong sama ayahnya tuh egois banget. Dia bahkan enggak mau denger ayahnya ngomong apa. Dan dengan sok tahunya marah-marah.

Saya ada nandain satu bagian pas Ghana marah-marah:

"Ayah enggak pernah tahu apa itu cinta, ya? Pernikahan itu dilandasi dengan cinta, bukan dengan uang. Saya tidak mau berakhir seperti Mama, yang hidupnya enggak pernah bahagia karena perjodohan."

^ Ghana menasihati ayahnya tentang pernikahan dan cinta karena dia merasa dia yang paling tahu soal itu dibanding ayahnya.

Haha :).

Soal tongkrongannya Ghana... duh, no comment, deh. Takut saya. HAHA.

Yang jelas mungkin kutipan di bawah, perkataan Ghana ketika akan memulai 'tawuran' dengan SMA Bunda Bangsa bisa menggambarkan, ya:

Ghana sudah terlebih dahulu menghempaskan bogemannya ke wajah Zafran sampai cowok itu tersungkur ke tanah. "Itu buat lo, yang mau ancurin muka ganteng gue."

Dan setelah itu, peperangan dimulai.

FYI, emang enggak pernah ada penjelasan kenapa dan bagaimana SMA Bunda Bangsa sama SMA Taruma Negara bisa berantem. Dan kenapa guru-guru enggak bertindak soal itu juga enggak jelas (tapi ntar saya bahas sekilas tentang guru-gurunya).

Udah ah, soal Ghana. Cukup sampai di sini aja. Saya enggak kuat bahas lagi. Masih banyak soalnya yang mau saya tulis.

3. Naufal

Singkat aja ya. Naufal tadinya diceritakan dingin. Tapi seperti yang bisa ditebak, dia ternyata perhatian sama Gina dan menyesal waktu Ghana dateng dan deket sama Gina.



Karakternya inkonsisten. Kadang baik, kadang enggak. Kadang jutek, kadang enggak. Pokoknya sebutin aja semua sifat manusia terus dikasih 'kadang' dan dilanjutin dengan 'kadang enggak' itulah Naufal.


Nah, sekarang saya mau bahas soal beberapa hal yang janggal. Enggak banyak-banyak, kok. Beneran. 

1. Lingkungan SMA-nya.

Entah kenapa, semua anak cewek di sekolah Ghana mengidolakan Ghana. Udah macem artis atau apa gitu. Setiap Ghana bolos nerobos guru, para cewek langsung klepek-klepek.





Udah gitu, di sekolah Ghana juga, ada geng cewek tukang risak yang nindas setiap cewek yang deket sama Ghana. 

Ya ampun, saya kira hal-hal kayak gini udah enggak ada lagi di buku-buku zaman sekarang. Ternyata masih ada aja :').

Sementara itu, di sekolah Gina, entah kenapa Gina 'terkenal' karena 'aneh'. Jadi, Gina pernah enggak sengaja nguping pembicaraan orang yang lagi ngomongin dia. Intinya, dua cewek enggak dikenal ini bilang Gina aneh, kemarin kelihatan pulang sama Naufal, orang tuanya cerai, temennya cuma satu, si Leah, Leah juga terlalu tenar buat temenan sama Gina, dst, dst.

Maksud saya, emang Gina siapa, sih? Di kehidupan nyata, kayaknya enggak ada anak yang kurang kerjaan sampai ngelihatin si ini pulang sama anu, si ono pulang sama inu, dst. Terus kenapa juga masalah keluarganya Gina sampai nyebar dan jadi bahan gosip orang-orang yang bahkan enggak kenal Gina?




Dan... balik lagi ke sekolah Ghana. Guru-gurunya... ya ampun. Kasihan banget. Masa mereka digambarin seenggak mampu itu sih, buat ngedidik Ghana? Sampai-sampai ngebiarin Ghana ngelakuin apa yang dia mau mentang-mentang bokapnya ketua yayasan?

(Lagi-lagi, emang zaman ya 'orang tua ketua yayasan' dijadiin alasan supaya karakter cowok bisa jadi berandal seenaknya?)

Ada narasi yang bilang kalau guru-gurunya udah pasrah ngadepin Ghana. Lagi pula, nilainya bagus. Jadi mau bolos atau enggak, ya, suka-suka Ghana. Intinya gitu.

Saya pengin nangis bacanya. Enggak bohong. Kayak... apakah sekolah itu cuma lembaga penghasil nilai? Emangnya kerjaan guru cuma bikin anak-anak dapat nilai bagus dan bukannya anak-anak dengan karakter yang oke? Emangnya kerjaan guru cuma mengajar dan bukannya mendidik?





2. Semua remaja mendadak dewasa dan semua orang dewasa mendadak bodoh

Hampir setiap percakapan Ghana-Gina atau Gina-Naufal pasti ada amanat yang diselipkan dalam analogi. Itu bagus, sih. Kayak quotable gitu. Tapi ya kalau mau, sekali-sekali aja gitu, lho. Masa sering banget sampai-sampai orang dewasanya enggak dapet jatah 'ngomong'?

Bapaknya Ghana diceritain cuma bisa 'menyesali kejadian 16 tahun yang lalu' sementara Ghana marah-marah dan nasihatin bapaknya ini-itu. Mereka sama sekali enggak ada usaha buat duduk bareng dan ngobrol karena satunya udah 'pasrah dan menyesal' satunya lagi 'marah dan mahatahu soal segalanya'.

Dan kayak yang udah saya tunjukin tadi, waktu mamanya Gina ngomong, novel ini memelintirnya jadi seakan-akan mamanya Gina yang salah.

Jadi, orang dewasa enggak ada yang benar, enggak ada yang mengerti anaknya, sehingga anak-anak remaja ini harus menghadapi setiap persoalan di dunia sendiri karena mereka mahatahu dan mahabenar. Intinya gitu. Wkwk.

3. Koneksi Gina-Ghana

Sebagai pasangan utama di novel ini, saya enggak bisa ngerasain konseksi Gina-Ghana. Semuanya terburu-buru dan alasan Gina nerima Ghana juga enggak jelas. Dari yang ngejar-ngejar Naufal banget, sampai akhirnya ke Ghana itu motivasinya apaan juga saya enggak ngerti. Haha.

Dan mereka terlalu dewasa (menurut saya). Baru ketemu beberapa minggu udah ngomong cinta-cintaan haha. Tapi kan Ghana emang mahatahu dan semua remaja udah dewasa ya di sini :D.

Oke, deh, mungkin segini dulu review saya. Sebenarnya masih banyak yang mau saya sampaikan, tapi kayaknya segini aja udah cukup kali, ya :D.

Untuk penulisnya, semangat terus. Semoga karya-karya selanjutnya bisa lebih baik lagi, ya :).

Omong-omong ini kayaknya bakal jadi review terakhir saya sampai beberapa bulan ke depan, karena saya enggak bakal baca banyak buku (kecuali ada yang mau baca review buku-buku latihan soal wangsit hahaha :D).

Jadi, sampai jumpa di review saya berikutnya!

Sebagai penutup, ini ada kutipan-kutipan yang saya suka dari novel G & G.


"Kamu tahu, kalau sebagian orang itu membangun tembok bukan untuk melindungi diri mereka dari orang lain, tapi untuk melihat siapa yang cukup peduli untuk merobohkan tembok itu."

--

"Jangan harap lo bisa dapet hasil, kalo dari awal lo enggak berusaha. Jadi kalo lo mau cita-cita lo terwujud, lo mesti berusaha dulu. Jangan menyerah sebelum berperang. Fight for your dreams. Kalo emang itu mimpi lo, lo harus kejar. Enggak ada mimpi yang enggak butuh pengorbanan. Karena bahkan kalo lo mau bermimpi di malam hari, lo harus membunuh semua realita, demi menggapai kebahagiaan yang fana."

--

"Mungkin kita baru kenal satu tahun yang lalu, tapi ini enggak tentang siapa yang udah kenal lama, Gin. Tapi tentang siapa yang datang dan enggak pernah pergi. Dan gue enggak akan pergi, Gin. Meskipun semua orang ngerendahin lo, gue akan selalu jadi sahabat lo."



Terakhir saya kasih 1 dari 5 bintang untuk besi dan baja.





5 comments:

  1. Saya suka sama review-review buku kamu.keep up the good work!

    ReplyDelete
  2. semangat kelas 12-nya adara!!!

    ReplyDelete
  3. thankyou untuk reviewnyaa! terutama utk masukan2nya sih, semoga aja nanti bukuku selanjutnya bisa lebih baik lagi�� oiyaa, kalau bisa bukuku yang lain direview jugaa, biar aku ada masukan lagi! ;)

    ReplyDelete